Inspirator

WACANA

18 Oktober 2008
Mengenang ’’Supermom’’ Prof Retno Sriningsih

  • Oleh Aprihatiningrum Hidayati

MASYARAKAT Indonesia, khususnya Kota Semarang, baru saja kehilangan sosok yang sangat fenomenal, meski sebagian di antaranya belum berkesempatan mengenalnya lebih dekat. Tepat seminggu kemarin, jasad Prof Dr Hj Retno Sriningsih Satmoko dikebumikan di TPU Bergota Semarang, setelah Jumat (10/10) malam menghembuskan nafas terakhir di usia 77 tahun.
Ibu Satmoko, begitu ia biasa disapa rekan kerja, mahasiswa, dan handai taulan, adalah guru besar emeritus berpangkat IV E di Program Studi Manajemen Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dia lahir di Kebumen pada 11 Maret 1931, dari pasangan RM Martosoedirmo – Ny R Ng Mariam.

Sebelumnya, pada Desember 2006, suami tercinta Prof Drs H Satmoko wafat di usia 79 tahun. Dari pasangan bergelar guru besar emeritus ini, lahirlah 10 putra-putri yang sangat brilian, dengan profesinya masing-masing yang telah berkontribusi banyak bagi masyarakat. Salah seorang diantaranya Dr Hj Sri Mulyani Indrawati MSc, yang kini menjabat Menteri Keuangan dan Penjabat Menko Perekonomian RI. Mbak Anik, panggilan akrabnya, merupakan anak ketujuh.

Banyak hal yang sangat istimewa dan menarik untuk bisa dipelajari dari Prof Retno, baik sebagai seorang ibu, istri, nenek, rekan kerja, juga pendidik. Dari tangan beliau, telah lahir bibit-bibit yang sangat unggul. Prestasinya di ranah publik tidak kalah mengagumkan.

Di usianya yang senja, beliau masih aktif di beberapa organisasi di kampus maupun di luar kampus. Di kampus, ia dikenal sebagai sosok yang pandai, hangat, dan akrab sebagai dosen dan rekan kerja. Terakhir, beliau menjabat ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unnes (1999-2003). Tahun 2002, Unnes menganugerahinya gelar emeritus. Tahun 2003 sampai wafat mengajar sebagai dosen S3 (program doktoral), meski telah memasuki masa purna tugas.

Kesuksesan di ranah domestik dan ranah publik merupakan bukti bahwa Prof Retno merupakan supermom masa kini. Hal inilah yang membuat penulis menjadikan beliau sebagai subjek penelitian dalam proses penyusunan tugas akhir sebagai mahasiswi Fakultas Psikologi Undip Semarang. Tulisan ini adalah dedikasi dan penghormatan tertinggi penulis terhadap beliau yang sangat fenomenal dan patut dijadikan teladan bagi generasi muda, yang akan mengemban amanah sebagai orangtua.

Penelitian ini berawal dari ketertarikan penulis akan sosok ibu ideal dambaan keluarga. Penulis memiliki gambaran bahwa seorang ibu ideal adalah ibu yang mampu menjalani kodratnya sebagai ibu, alias mampu melakukan tugas pengasuhan anak hingga menghasilkan anak-anak yang sukses. Kemudian muncul pertanyaan dalam benak peneliti, bagaimana dengan ibu yang mengambil pilihan bekerja, tentu tantangannya akan lebih berat.

Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa ibu yang sukses menjalani dua peran sekaligus (ibu rumah tangga dan wanita karier) adalah sosok ibu ideal. Peneliti lalu memberikan label ibu yang sukses berperan ganda dengan sebutan supermom. Supermom adalah seorang ibu yang meraih kesuksesan tidak hanya dalam mengurus keluarga di rumah, tapi juga sukses berkarier di luar rumah (Qorinuka, 2005). Pertanyaannya, adakah sosok ibu yang memenuhi kriteria itu?

Fondasi Keluarga

Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama tujuh bulan, dengan metode observasi dan wawancara mendalam (depth interview), diperoleh hasil bahwa beliau meyakini fondasi pernikahan terletak dari pelakunya yaitu suami dan istri. Poin utamanya, bagaimana memilih suami yang tepat dan sesuai dengan dirinya, atau dalam Islam dikenal dengan konsep sekufu. Sekufu adalah kesamaan suami-istri dalam pola dasar, pengetahuan yang dimiliki, profesi, hingga cara berfikir.

Saat penulis bertanya tentang kriteria pemilihan pasangan hidup, beliau menjawab, ‘’Saya dan Pak Satmoko mempunyai kesamaan pola dasar pengetahuan. Kebetulan profesi pun sama, sehingga kami berdua ini sekufu, tidak ada nilai yang berbeda. Ini perlu diperhatikan. Kalau sudah sekufu, pengelolaan kependidikan dalam keluarga akan berlangsung tanpa benturan. Konflik banyak, lumrah sekali ada riak-riak dalam keluarga. Tetapi seingat saya, konflik itu kecil-kecil dan tak berarti’’.

Prof Retno mengatakan, awal mula pengasuhan anak tidak lagi saat anak berada dalam kandungan ibu, tapi ada fase awal yang mendahului, yaitu saat memilih pasangan hidup. Dalam budaya Jawa, konsep pemilihan pasangan hidup itu dikenal dengan istilah bibit, bobot, bebet.

Bibit artinya asal-usul keluarga: dari mana pasangan dilahirkan, siapa yang menurunkan, apakah dari keluarga bertanggung jawab. Bobot berarti kompetensi diri: kemampuan yang dimiliki, kemampuan menjadi patner dalam mencapai tujuan pernikahan. Bebet artinya rezeki yang dimiliki: pekerjaan yang dijalani, cara yang ditempuh untuk meraih rezeki. Ada lagi pertimbangan tambahan, yaitu weton (hari kelahiran).

Seorang ibu tidak akan menjadi supermom, tanpa adanya seorang suami yang super pula, yang memiliki pemahaman dan visi yang cenderung sama dalam menjalani praktik pengasuhan anak. Prinsip kesetaraan dan keselarasan antara suami-istri dalam berumah tangga pun diperlukan dalam usaha meraih tujuan keluarga.

Dalam budaya Jawa, prinsip ini telah turun-temurun diwariskan dan dipegang teguh dalam keluarga Satmoko yang dikenal dengan istilah garwa (sigaraning nyawa). Sebagai garwa, istri harus sadar akan perannya sebagai istri, bahwa terkadang harus mengalah kepada suami. Begitu pula suami, terkadang harus mengalah kepada istri.

Persamaan tujuan pernikahan seharusnya dilakukan di awal pernikahan, sehingga tidak ada salah paham antarpasangan di kemudian hari, sehingga bisa mengarahkan anak-anaknya menjadi anak saleh. Setelah tugas pengasuhan anak dirasa lancar, Prof Retno akan menjalani peran selanjutnya, yaitu sebagai ibu yang bekerja. Menurut beliau, wanita yang sukses mendidik anak sekaligus berkarier adalah wanita yang mampu melakukan manajemen keduanya secara proporsional.

Selamat jalan Prof Retno. Ibu bukan hanya subjek (penelitian) bagi saya, lebih dari itu menjadi guru, model, dan motivator bagi saya dan kaum perempuan di Indonesia. (32)

Catatan anak pertama Prof. Dr.dr. Agus Purwodianto, SH, kolumnis Kompas, Puslabfor dan Gurubesar UI.

—Aprihatiningrum Hidayati, direktur Akademik Bizz 4 Kids, alumnus Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.

On Sel, Oktober 28, 2008 07:04, syafedi syafei Ph.D wrote:

Tokoh-Tokoh Inspirator dan Motivator

Hari ini tanggal 28 Oktober 2008 kita bangsa Indonesia akan memperingati hari sumpah pemuda. Pada tanggal 28 Oktober 1928, jauh sebelum kemerdekaan RI, Pemuda-pemuda Indonesia memproklamirkan tekad bersama yaitu:

Satu tanah air, tanah air Indonesia

Satu bangsa, bangsa Indonesia

Satu bahasa, bahasa Indonesia

Peristiwa bersejarah tersebut memberikan inspirasi kepada pemuda Indonesia yang pada awalnya berorganisasi melalui perkumpulan kedaerahan, meningkat menjadi perkumpulan yang bersifat nasional. Dan pada akhirnya berujung pada usaha pejuangan untuk mencapai kemerdekaan RI, dan berhasil diwujudkan pada tanggal 17 agustus 1945.

Peristiwa ini setiap tahun kita peringati, tetapi kadang kala terasa tanpa makna. Nuansa seremonial jauh lebih kentara dibanding hakekatnya. Didalamnya terkandung makna semangat, tekat serta memberikan inspirasi dan motivasi kepada pemuda Indonesia.

Sebagai salah seorang warga Negara biasa, saya pribadi berniat mengumpulkan kisah-kisah hidup perjuangan anak bangsa yang dapat memberikan inspirasi serta motivasi kepada generasi muda. Keteladanan dan kisah perjalanan hidup dapat dicontohkan oleh orang biasa yang tidak dikenal oleh masyarakat. Jika anda Mempunyai tokoh panutan dan dapat memberikan inspirasi kepada generasi muda, alangkah baiknya untuk berbagi dan menceritakannya. Banyak tokoh dunia/Indonesia seperti Thomas Alva Edison (pernah saya tulis), Barrack Obama, Amin Rais patut dijadikan tokoh Inspirator.

Pada kesempatan ini, saya mencoba mengungkapkan beberapa tokoh masyarakat yang tidak dan belum begitu dikenal.

Pertama, Suharna Surapranata, Ketua Majelis Pertimbangan Partai PKS. Hari Minggu kemaren, dia satu diantara 8 calon presiden yang akan diajukan PKS. Seorang anak bangsa, yang saya kenal. Saya mengenalnya pada tahun 1977, sebagai mahasiswa Fisika-UI saya mengenalnya di mesjid ARH-UI. Dia adalah mahasiswa Fisika UNAS yang tinggal/menginap di Mesjid ARH. Pada tahun 1978 diterima di Fisika-UI. Seorang anak bangsa yang cerdas, diangkatannya termasuk tiga besar. Saya tidak tahu karir politiknya di PKS, karena saya memang bukan simpatisan PKS.

Semasa mahasiswa bersama dia saya pernah bekerja sama mendirikan bimbingan belajar KDM, yang mempunyai kegiatan di Cilitan dan di sebuah mesjid di Jl Sudirman (sekarang berdiri BEJ). Bimbingan ini bubar, karena saya harus ke Yogya (tugas skripsi). Sementara saya ke Yogya, Suharna bersama kawan-kawan melanjutkan pengelolaan Yayasan Nurul Fikri, dimana yayasan NF didirikan oleh Kak Yan (alm) yang dikenal baik oleh kawan-kawan yang sering nongkrong di mesjid ARH-UI. Kegiatan yayasan Nurul Fikri pada awalnya terfokus kepada kegiatan bimbingan belajar yang berpusat di Jl. Kinari, Salemba, berdekatan dengan kampus Gunadarma yang waktu itu juga masih kecil.

Saya tidak heran bahwa Nurul Fikri, sukses dan besar seperti sekarang ini. Pengalaman saya bekerja sama dengan dia, sangat luar biasa. Suharna adalah anak bangsa yang ulet. Kami pernah pada tengah malam menyebarkan brosur ke SMA 3, yaitu dengan memasukkan brosur ke laci bangku murid SMA. Pengalaman yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika, kami dikejar oleh Polisi karena belok ke arah SMA 3 dari Jl Sudirman Semanggi, yang waktu itu dilarang. Kami terpaksa masuk ke gang (MHT) dan mematikan lampu untuk berdiam sebentar agar tak terlihat oleh polisi. Barangkali sampai saat ini, Suharna masih menjadi Ketua Yayasan Nurul Fikri. (..akan dilanjutkan, jika anda punya cerita lain tentang Suharna harap email ke syafsya2000@yahoo.com)

Kedua, Dody Susanto, Ketua Karang Taruna Nasional. Dia adalah tokoh dibalik pendirian kantin kejujuran yang terakhir diresmikan yang ke 1000 oleh Jaksa Agung Hendarman Supandji …. (..akan dilanjutkan, jika anda punya cerita lain tentang Dody Sutanto harap email ke syafsya2000@yahoo.com)

…………………..

Delapan nama yang masuk dalam bursa calon presiden dari PKS adalah: Hidayat Nur Wahid, Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Salim Segaff Al Jufri (Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan anggota Majelis Syuro PKS), Sekretaris Jenderal Anis Matta, Ketua Komisi X DPR, Irwan Prayitno, Suharna Surapranata (Ketua Majelis Pertimbangan Partai), Sohibul Iman (anggota Majelis Syuro PKS), Surahman Hidayat (Ketua Dewan Syariah Pusat PKS).

Kandidat lain

Jusuf Kalla

Usia: 66 tahun

Kendaraan: Partai Golongan Karya

“Janganlah politik dibagi-bagi dengan umur.”

Wiranto

Usia: 61 tahun

Kendaraan: Partai Hati Nurani Rakyat

“Banyak kader Golkar yang loyal kepada saya.”

Prabowo Subianto

Usia: 58 tahun

Kendaraan: Partai Gerakan Indonesia Raya

“Kalau dukungan rakyat signifikan, itu merupakan amanah.”

Soetrisno Bachir

Usia: 51 tahun

Kendaraan: Partai Amanat Nasional

“Hidup Adalah Perbuatan” — slogan iklan di televisi

Yusril Ihza Mahendra

Usia: 52 tahun

Kendaraan: Partai Bulan Bintang

“Presiden lamban, lebih baik saya yang jadi presiden.”

Sutiyoso

Usia: 64 tahun

Kendaraan: Partai Sejahtera Indonesia dan Bang Yos Center

“Saat masuk pasar, orang-orang pada berteriak menyambut saya.”

Ratna Sarumpaet

Usia: 59 tahun

Kendaraan: tidak jelas

Rizal Mallarangeng

Usia: 43 tahun

Kendaraan: tidak jelas

Fadjroel Rachman

Usia: 44 tahun

Kendaraan: tidak jelas

Kivlan Zein

Usia: 63 tahun

Kendaraan: tidak jelas

Diforward oleh Soedardjo

Ini ada supermom versi Suara Merdeka di http://www.suaramer deka.com/ smcetak/index. php?fuseaction= beritacetak. detailberitaceta k&id_beritacetak= 35112

Wassalam Soedardjo

Tinggalkan Balasan